Dasar-dasar Transistor (1)

Transistor yang akan dibahas adalah transistor jenis BJT (Bias Junction Transistor). Transistor BJT pertama kali dibuat oleh William Bradford Schockley, John Bardeen dan Walter Houser Brattain pada tahun 1951 atas penemuannya ini ketiga Ilmuan ini dianugrahi hadiah Nobel pada tahun 1956 dalam bidang fisika. Penemuan transistor membawa perubahan yang ekstrim dalam dunia khususnya bidang elektronika. Jika dulu sebelum ada transistor peralatan elektronika dibuat masih menggunakan tabung hampa yang memiliki ukuran yang besar dan membutuhkan daya listrik yang tinggi untuk pengoperasiannya, namun setelah ditemukannya transistor, peralatan elektronika dapat dibuat menjadi lebih kecil, handal dan tidak membutuhkan daya yang besar untuk pengoperasiaanya. Penemuan transistor membawa perubahan besar dalam industri elektronika dan membuka gerbang menuju dunia moderen hingga saat ini.

Dari awal mula transistor dibuat hingga saat ini ada 2 golongan besar transistor yaitu :

  1. Transistor tegangan bias (Bias Junction Transistor (BJT))
  2. Transistor efek medan (FET = Field Effect Transistor)

Namun dipasaran transistor jenis BJT paling banyak digunakan. Transistor efek medan lebih banyak digunakan pada peralatan yang membutuhkan kecepatan kerja yang tinggi.

Bias Junction Transistor (BJT)

Transistor BJT sering disebut transistor saja, transistor berdasarkan susunan semikonduktor pembentuknya dapat dibagi menjadi 2 tipe transistor yaitu : tipe PNP (Positif – Negatif – Positif) dan Tipe NPN (Negatif – Positif – Negatif ). Gambar 1 berikut ini menunjukan perbedaan simbol transistor NPN dan Transistor PNP.

g1

Gambar 1 perbedaan simbol dan semikonduktor penyusun transistor NPN dan PNP

Kaki emitor (e) adalah kaki yang memiliki tanda anak panah. Kaki basis (b) adalah kaki tengah pada simbol dan sisanya kaki kolektor (c). Transistor terbuat dari gabungan 3 jenis semikonduktor. Untuk transistor NPN tersusun oleh semikonduktor tipe P yang diapit oleh 2 buah semikonduktor tipe N, sedangkan transistor PNP terbuat dari semikonduktor tipe N yang diapit oleh 2 buah semikonduktor tipe P seperti pada gambar 1. Kedua tipe transistor ini dapat disamakan dengan gabungan 2 buah dioda seperti pada gambar 2 berikut ini.

semikonduktor penyusun transistor

Gambar 2 gabungan 2 buah diode dapat digunakan untuk menjelaskan transistor

Transistor mempunyai 3 kaki yaitu kaki emitor, kaki kolektor dan kaki basis, artinya di dalam transistor juga terdapat 3 buah area yaitu area emitor, area kolektor dan area basis. Gambar 3 menunjukan 3 area yang terdapat di dalam transistor.

kontruksi transistorGambar 3 sketsa konstruksi transistor NPN

Gambar 3 menunjukan sketsa konstruksi transistor NPN. Terlihat lapisan tipis semikonduktor tipe P yang diapit oleh 2 semikonduktor tipe N. Semikonduktor tipe N yang lebih kecil akan menjadi daerah emitor. Pada semikonduktor tipe N yang menjadi daerah emitor ini disisipkan lebih banyak logam pengotor dibandingkan dengan semokonduktor tipe N yang menjadi daerah kolektor, sehingga pada daerah emitor lebih banyak terdapat elektron bebas dibandingkan dengan daerah kolektor, walaupun kedua daerah ini dibuat dari bahan yang sama yaitu semikonduktor tipe N. Semokonduktor tipe P yang menjadi daerah basis dibuat tipis dan banyak mengandung muatan positif (lubang).
Untuk menjelaskan cara kerja transistor ketiga daerah ini dapat digambar seperti pada gambar 4 berikut ini.

3 daerah transisto sketsa

Gambar 4 sketsa 3 daerah pada transistor

Bila 2 semikonduktor yang berbeda misalnya tipe N dan tipe P disambung, maka pada bagian sambungan akan timbul lapisan penyangga atau lebih tepat disebut depletion layer. Pada transistor karena dibuat dari sambungan 3 jenis semikondutor, maka terdapat 2 lapisan penyangga (depletion layer) yaitu antara sambungan daerah emitor dengan basis dan sambungan antara basis dengan kolektor. Kondisi ini dapat digambar seperti pada gambar 4. Karena daerah emitor memiliki elektron bebas lebih banyak, maka tebal lapisan deplesi antara sambungan emitor-basis akan lebih tebal dibandingkan dengan sambungan basis kolektor. Besar tegangan untuk melewati lapisan penyangga ini adalah 0,7 V untuk semikonduktor dari bahan silikon dan 0,3 V untuk semikonduktor dari bahan germanium. Tegangan ini identik dengan tegangan Knee (Vknee) pada dioda.

Transistor tipe BJT baru akan bisa bekerja jika kaki-kakinya diberi tegangan bias. Ada banyak metode yang dapat digunakan untuk memberi tegangan bias  dan masing-masing metode memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Pada pokok bahasan ini akan dibahas proses pemberian tegangan bias pada kaki basis atau disebut bias basis. Gambar berikut ini menunjukan rangkaian pemberi tegangan bias pada transistor NPN.

g2

Gambar 5 transistor NPN yang diberi tegangan bias basis

Pada gambar 5, saat tidak ada tegangan bias pada kaki basis, maka arus basis (ib) tidak mengalir ke transistor akibatnya transistor dalam posisi OFF atau tidak ada arus listrik yang mengalir pada transistor. Ini terjadi karena kaki kolektor diberi tegangan balik (backward voltage) dari tegangan sumber (VCC). Akibat tegangan balik ini zone deplesi pada sambung kolektor-basis menjadi semakin tebal.

g2b

Gambar 6 ketika arus basis mengalir melalui basis

 Ketika kaki basis diberi tegangan bias maju (tegangan +), maka kaki basis – emitor yang merupakan sebuah dioda mendapat tegangan maju (forward voltage), akibatnya elektron bebas yang banyak terdapat di daerah emitor akan bergerak ke basis, zona deplesi antara sambungan basis-emitor hilang. Karena jumlah elektron bebas pada daerah emitor lebih banyak dari pada jumlah elektron bebas pada daerah kolektor, maka daerah kolektor akan bersifat lebih positif dibandingkan dengan daerah emitor. Selain itu pada daerah kolektor terhubung langsung ke tegangan + sumber (VCC), yang jauh lebih besar dibandingkan dengan tegangan bias basis, maka elektron – elektron bebas dari daerah emitor sebagian besar akan mengalir ke tegangan + sumber melewati daerah kolektor dan sebagian kecil akan mengalir ke tegangan + bias basis.

Pada saat elektron ini mengalir, maka akan mengalir arus listrik yang besarnya sama dengan arus elektron tetapi arahnya berlawanan dengan arus elektron. Jika arus elektron mengalir melalui emitor ke kolektor, maka arus listrik akan mengalir dari kolektor ke emitor. Arus listrik yang mengalir dari tegangan sumber ke kaki kolektor disebut arus listrik kolektor (iC) dan arus listrik yang mengalir dari kaki emitor menuju ke ground disebut arus listrik emitor (i­E). Arus listrik yang mengalir masuk ke kaki basis akan menuju ke kaki emitor, karena potensial listrik di kaki kolektor lebih tinggi dibandingkan dengan potensial listrik di kaki basis, maka arus listrik akan mengalir ke kaki emitor yang memiliki potensial listrik paling rendah seperti pada gambar 7 berikut ini.

g2c

Gambar 7 transistor NPN aktif dan mengalirkan arus dari kolektor ke emitor

Kesetimbangan arus listrik yang mengalir melewati transistor ini dapat ditulis secara matematis sebagai berikut :

 ie = ib + ic

Bagaimana dengan transistor PNP ?

Sama halnya dengan transistor NPN, hanya pada transistor PNP polaritas tegangan dibalik seperti pada gambar 8 berikut ini.

simbol transistor

Gambar 8 pemberian tegangan bias pada transistor PNP dan Tranasistor NPN

Pada transistor PNP kaki kolektor dihubungkan ke kutub negatif sumber tegangan (VCC) dan kaki emitor dihubungkan ke kutub positif sumber tegangan. Kutub negatif tegangan bias (VBB) dihubungkan ke kaki basis dan kutub positif tegangan bias bersama dengan kutub positif sumber tegangan dihubungkan menjadi ground.  Bila pada transistor NPN yang menjadi ground adalah kutub negatif, maka pada transistor PNP yang menjadi ground adalah kutub positif.

 

Analisa Rangkaian Transistor

Ada 3 macam rangkaian transistor yang umum digunakan yaitu :

  1. Common Emitor (C-E), emitor yang digroundkan
  2. Common collector (C-C), kolektor yang digroundkan
  3. Common Basis (C-B), basis yang digroundkan

Rangkaian Common Emitor

Pada pembahasan ini, akan dibahas tentang rangkaian transistor common emitor. Rangkaian common emitor adalah rangkaian yang paling umum dan mudah untuk dianalisa. Berikut ini adalah contoh rangkaian common emitor yang paling sederhana.

loop dalam transistor

Gambar 9 rangkaian common emitor

Pada rangkaian common emitor seperti pada gambar 9, kaki emitor dihubungkan ke ground. Rangkaian ini mempunyai 2 loop yaitu loop kolektor-emitor (loop ce) dan loop basis-emitor (loop be).

Pada loop be transistor mendapat tegangan bias maju (forward bias) dari basis ke emitor. Arus listrik basis (ib ) dapat diatur besarnya dengan mengubah besar nilai resistor pembatas arus Rb. Mengubah arus listrik basis (ib) juga akan mengubah besar arus listrik kolektor (ic). Artinya arus listrik kolektor (ic) dapat dikontrol dengan mengubah – ubah arus listrik basis (ib). Besar arus basis jauh lebih kecil dibandingkan dengan arus kolektor.

Pada loop ce sumber tegangan Vcc memberikan tegangan balik (backward) ke kolektor – emitor pada transistor melalui RC. Dalam kondisi tanpa bias maju pada loop be, transistor tidak akan bekerja. Transistor baru akan bekerja jika ada arus basis. Karena transistor memiliki 3 kaki, maka terdapat 3 tegangan pada transistor yaitu :

Vce = tegangan antara kaki kolektor dengan kaki emitor (Vce = Vc – Ve)

Vcb = tegangan antara kaki kolektor dengan kaki basis (Vcb = Vc – Vb )

Vbe = tegangan antara kaki basis dengan kaki emitor (Vbe = Vb – Ve)

Gambar berikut ini menunjukan posisi ketiga tegangan pada kaki-kaki transistor.

vcevcbvbeGambar 10 tegangan pada kaki-kaki transistor

Untuk gambar rangkaian 9, tegangan pada kaki emitor (Ve) = 0 sehingga tegangan pada kaki transistor dapat disederhanakan menjadi :

Vce = Vc

Vcb = Vc – Vb

Vbe = Vc

Loop be

Kaki basis ke emitor dapat dianggap sebagai sebuah dioda seperti pada gambar berikut ini.

diode BE

Gambar 11 kaki basis ke emitor dapat dianggap sebagai sebuah dioda

Maka hubungan arus basis dengan tegangan Vbe dapat digambar sebagai sebuah tegangan knee (Vknee) pada dioda B-E.

vknee

Gambar 12 tegangan knee pada dioda b-e

Jadi arus listrik basis (ib­) dapat mengalir melalui B-E jika tegangan Vbe lebih besar dari 0,7 V untuk transistor dengan bahan silikon dan lebih besar dari 0,3 V untuk transistor germanium. Karena Vbe besarnya sama dengan Vb jika tegangan emitor sama dengan nol, maka Vb akan sama dengan 0,7 V untuk transistor silikon dan akan sama dengan 0,3 volt untuk transistor germanium.

Dengan menggunakan hukum 2 Kirchoff , maka arus basis dapat dihitung. Gambar 13 memperlihatkan loop be.

loopbe

Menurut hukum ke 2 kirchoff dalam rangkaian tertutup, maka jumlah tegangan harus sama dengan nol, sehingga didapat :

r1

Loop CE

Gambar 14 berikut ini memperlihatkan loop CE pada transistor common emitor.

loopce

Gambar 14 loop ce transistor

Sama dengan loop be, loop ce juga dapat dianalisa dengan menggunakan hukum ke 2 Kirchoff yaitu :

r2

Hubungan, Ib, ic dan Vce dapat digambar sebagai sebuah kurva karakteristik transistor yaitu :

hubungan ib ic vce

Gambar 15 hubungan ic, ib dan vce sebagai sebuah kurva karakteristik transistor

Daya yang hilang (PD) dapat dihitung :

Pd = Vce . ic

Daya yang hilang atau digunakan oleh transistor adalah besarnya tegangan kolektor emitor (V­ce) dikalikan dengan besarnya arus listrik kolektor (ic). Daya ini menyebabkan naiknya temperatur pada sambungan semikonduktor kolektor dengan semikonduktor basis dan emitor. Transistor umumnya akan rusak jika temperatur sambungan ini melebihi 150oC. Pada gambar 15 terlihat kurva karakteristik transistor yang bekerja pada arus basis sebesar ib dengan tegangan Vce yang bervariasi dari nol hingga Vbreak. Vsat­ adalah tegangan saturasi yaitu tegangan pada saat arus kolektor yang mengalir melalui transistor menjadi stabil (konstan). Sedangkan Vbreak adalah tegangan rusak. Daerah antara tegangan saturasi dengan tegangan rusak disebut daerah aktif transistor. Transistor tidak boleh bekerja melebihi tegangan rusaknya. Daerah dari Vce = 0 hingga Vce = Vsat disebut daerah jenuh (saturation zone). Pada daerah jenuh ini penguatan arus listrik (β) akan lebih kecil dari β ada daerah aktifnya.

Untuk arus basis yang bervariasi dari kecil hingga besar maka kurva karakteristik transistor dapat digambar seperti pada gambar 16. Pada saat arus basis 0, maka arus kolektor masih ada sedikit yang mengalir. Namun arus ini tidak dapat berpengaruh apa-apa. Daerah kurva pada saat ib = 0 disebut cut-off region dan arus kolektor yang lewat pada zona cut-off region disebut arus cut-off kolektor.

Arus cut-off kolektor ini terjadi karena pada dioda kolektor terdapat kebocoran arus, tapi kebocoran arus ini sangat kecil sehingga dalam perhitungan dapat diabaikan.

kurva karakteristik transistor sbg saklar

Gambar 16 kurva karakteristik transistor

Jadi pada kurva karakteristik transistor terdapat 4 daerah (zona) yaitu daerah aktif, daerah saturasi, daerah cut-off dan daerah breakdown. Transistor yang dirangkain untuk bekerja sebagai penguat signal (amplifier) akan bekerja pada daerah aktif. Sedangkan transistor yang dirangkai sebagai saklar akan bekerja pada daerah saturasi ketika dalam kondisi ON dan bekerja pada daerah cut-off ketika dalam kondisi OFF. Bila kerja transistor masuk ke daerah breakdown, maka transistor menjadi rusak. Ke 4 daerah kerja transistor ini dapat digambarkan sebagai berikut.

4 daerah transistor

Gambar 17 ke-4 daerah kerja transistor dalam kurva karakteristik transistor

Posted on November 11, 2014, in Elektronika and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: