Makna Sebuah Katana

Katana, ……….. apa itu “katana”?, dari sekian banyak orang yang saya tanya banyak yang menjawab ngawur, mereka lebih kenal dengan Suzuki Katana. Tetapi jika saya tanya “Samurai”, maka hampir semua kenal dan selalu menyatakan samurai adalah sebuah pedang. hahahahahaha, Padahal samurai bukan sebuah pedang, tapi orang, samurai adalah sosok pasukan elit Jepang pada abad ke 10 sampai awal abad ke 18. Sedangkan katana adalah pedang panjang khas yang umumnya digunakan sebagai senjata andalan seorang samurai. Pada kesempatan ini saya tidak akan membahas tentang samurai dan kehidupannya, walaupun sebenarnya sangat menarik untuk mempelajari dan mengenal lebih dekat sosok pejuang jepang ini. Pada kesempatan ini saya akan membahas makna sebilah pedang katana dan hubungannya dengan kehidupan manusia.

Apa sih makna pedang ini ? bukannya ini hanya senjata tajam biasa yang sangat mengerikan bila berada di tangan orang yang tidak bertanggung jawab?. Hemmmmmmm, pertanyaan yang bagus, untuk menjawabnya mari kita lihat proses pembuatannnya.

Katana adalah sosok sebilah pedang melengkung yang memiliki sisi tajam pada lengkungan bagian luar dan merupakan pedang tradisional jepang. Pedang katana ini sangat kuat dan tajam. Sisinya tajamnya dapat setajam pisau silet sedangkan bilah pedangnya sangat kuat, lentur dan tangguh. Pedang ini juga dilengkapi dengan gagang yang cukup panjang sehingga dapat dipegang dengan menggunakan 2 tangan dan memberikan rasa percaya diri dan rasa aman yang tinggi bagi yang memegangnya. Katana merupakan pedang yang sarat akan makna kehidupan manusia. Walaupun dia hanya terlihat seperti sebuah senjata tajam yang tidak ada bedanya dengan senjata tajam lainnya, tapi bila kita menilik proses pembuatannya, maka kita akan dapat meresapi sebuah makna ajaran yang mendalam tentang bagaimana seharusnya manusia hidup dan bersikap.

Berikut gambar sebilah katana

Gambar 1 sebilah katana antik peninggalan jaman kejayaan samurai di metropolitan museum of art (sumber http://en.wikipedia.org/wiki/File:Antique_japanese_katana.jpg)

Dengan bantuan mbah google, penulis mendapatkan banyak sekali informasi tentang proses pembuatan pedang yang sangat terkenal ini.

Pedang katana tidak dibuat dari bahan yang sembarangan, tidak dibuat dengan menggunakan baja pilihan yang mahal yang dibuat di pabrik baja, atau menggunakan logam – logam langkah yang khas, atau menggunakan meteorit seperti proses pembuatan sebuah keris. tetapi pedang ini dibuat dari bahan yang sangat sederhana dan tidak pernah terpikirkan oleh kita yaitu bijih besi dan karbon. Ya, hanya dari serbuk-serbuk besi yang tercecer di sekitar kita. (“mereka tidak dipilih dari bahan yang mahal atau yang sudah disiapkan secara instan, tetapi dipilih dari alam melalu proses seleksi yang panjang “). Seorang pandai besi pembuat pedang akan berjalan-jalan berkeliling sepanjang sungai dan pantai dengan membawa sebuah magnet untuk mengumpulkan bijih besi ini sedikit demi sedikit hingga terkumpul berton-ton bijih besi. Kemudian bijih besi dan karbon dimasukan ke dalam tungku khusus yang disebut Tatara. Tatara adalah tungku berbentuk persegi empat yang dibuat dari bahan tanah liat khusus untuk proses pembuatan bahan baku untuk pedang katana. Di dalam tatara, 25 ton campuran bijih besi dan arang di “masak” selama 3 hari 3 malam. Proses ini berlangsung pada suhu 2500 derajat Fahrenheit, tetapi tidak boleh sampai meleburkan bijih besi. (“mereka tidak pernah dilebur, tetapi dipanggang hingga menyatu”). Selama proses ini kandungan karbon di dalam arang akan mereduksi bijih besi menjadi baja pilihan yang sangat baik yang disebut Tamahagane. Tamahagane adalah logam yang sangat berharga bahkan ada yang menyebutnya sebagai permatanya baja. Dari 25 ton campuran bijih besi dan arang hanya dihasilkan 2 ton saja bahan tamahagane yang bermutu sangat baik. Gambar berikut ini menunjukan tungku tatara yang digunakan untuk proses pembuatan baja tamahagane.

Gambar 2 tatara yang sedang digunakan untuk membuat tamahagane (sumber : http://www.pbs.org/wgbh/nova/samurai/swor-01.html)

Proses berikutnya adalah proses melarutkan karbon. Seperti yang telah dibahas di atas, selama dipanggang pada temperatur yang sangat tinggi, baja ini tidak boleh sampai melebur. Proses ini untuk memastikan banyaknya karbon yang terlarut di dalam baja sesuai dengan yang diinginkan. Proses ini akan menyebabkan karbon yang terlarut di dalam baja berkisar antara 0,5 % hingga 1,5 %. Bagi mereka yang mempelajari metalurgi tentu memahami ini, karena kadar karbon dalam baja menentukan kekerasan suatu baja. Para pembuat pedang katana umumnya menggunakan 2 jenis tamahagane yaitu tamahagane dengan kadar karbon tinggi dan tamahagane dengan kadar karbon rendah. Tamahagane dengan kadar karbon yang tinggi akan menghasilkan logam yang keras dan dapat dibentuk menjadi setajam pisau silet sedangkan tamahagane dengan kadar karbon yang rendah akan menghasilkan logam yang ulet dan memiliki daya redam yang tinggi terhadap benturan. Perpaduan kedua jenis tamahagane ini yang akan menghasilkan sebuah pedang katana yang tangguh. Gambar berikut ini menunjukkan tamahagane hasil proses di dalam tatara.

Gambar 3 tamahagane (the jewel steel) hasil proses dari tatara (sumber : http://www.pbs.org/wgbh/nova/samurai/swor-02.jpg)

(“Mereka dipanaskan, ditempah, dilipat, ditempah lagi dan didinginkan berulang-ulang kali bahkan hingga ribuan kali”). Tamahagane terbaik yang dihasilkan dari tatara akan diproses lebih lanjut oleh seorang ahli pembuat pedang. Di tangan ahli pembuat pedang, tamahagane diproses melalui proses penempahan hingga menjadi sebilah pedang katana. Proses ini bukanlah proses yang singkat, tetapi merupakan proses yang panjang. Bahan baku pedang dipanaskan hingga memerah, kemudian ditempah dengan cara tertentu, dilipat dan ditempah lagi berulang-ulang, bila dingin dipanaskan kembali, akhirnya bahan didinginkan baik dengan menggunakan udara atau menggunakan air. Tujuan proses ini adalah untuk homogenisasi dan menghilangkan semua partikel pengotor di dalam bahan sehingga dapat dihasilkan sebilah katana yang baik. Pada akhirnya ahli pembuat pedang akan menyatukan 2 jenis tamahagane yaitu tamahagane dengan kadar karbon rendah dibagian bilah pedang yang dilapisi dengan tamahagane dengan kadar karbon tinggi dibagian luar dan mata pedang.

Tamahagane dengan kadar karbon rendah memiliki keuletan, kelenturan dan daya tahan terhadap beban impak yang besar, namun bahan ini tidak dapat dibuat menjadi tajam. Sedangkan tamahagane dengan kadar karbon tinggi memiliki kekerasan yang tinggi tetapi rapuh sehingga mudah patah. Sehingga dengan menggabungkan kedua jenis tamahagane ini akan menciptakan sebuah pedang katana yang tangguh, dimana pedang akan ulet, lentur dan tahan benturan, juga memiliki mata pedang yang setajam silet dan sisi pedang yang keras. Kedua sifat tamahagane ini bila berdiri sendiri tidak akan berguna, tetapi bila disatukan akan menghasilkan sebuah pedang yang tangguh. Gambar berikut ini menunjukkan macam-macam cara yang digunakan oleh Ahli pembuat pedang Jepang untuk menyatukan 2 jenis material yang berbeda.

Gambar 4 proses menggabungkan 3 jenis tamahagane untuk membentuk bilah katana (sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/File:Katana_brique.png)

(mereka memiliki 2 sifat yang berbeda dan rapuh bila berdiri sendiri, tetapi bila disatukan dengan benar akan manghasilkan suatu sifat yang tangguh, tahan uji dan bernilai tinggi). Setelah proses penempahan selesai, maka pedang akan ditajamkan dengan cara mengasah, menggosok dan memolesnya. Kemudian kembali pedang melalui proses perlakukan panas, di mana bagian mata pedang akan dikeraskan sedangkan bagian bilah pedang tidak. Dengan menggunakan sejenis tanah liat, si pembuat pedang akan melapisi seluruh bagian pedang. pada bagian yang hendak dikeraskan akan dilapisi dengan tanah liat secara tipis sedangkan pada bagian yang tidak dikeraskan akan dilapisi dengan tanah liat yang tebal, proses ini juga akan memberikan bentuk corak tertentu pada pedang. Kemudian pedang kembali dipanaskan dan dicelup secara cepat ke dalam air. Karena tingkat pemanasan yang tidak merata, maka pedang katana sewaktu dicelupkan akan melengkung membentuk lengkungan khas pedang katana Jepang. Sampai pada tahap ini pedang sudah siap untuk dipoles hingga mengkilap. Gambar berikut ini menunjukkan proses pelakuan panas dan proses pelengkungan pedang.

Gambar 5 proses pelapisan bilah pedang dengan tanah liat khusus untuk perlakuan panas (sumber : http://www.pbs.org/wgbh/nova/samurai/swor-05.html)

Gambar 6 proses pencelupan pedang sehingga melengkung (sumber : http://www.pbs.org/wgbh/nova/samurai/swor-06.html)

Gagang pedang dibuat dari bahan kayu yang baik dengan ukuran yang proporsional dengan memperhatikan letak titik berat pedang. Gagang ini dihiasi dengan anyaman tali yang dibuat dari benang sutra membentuk motif tertentu. Gagang pedang katana harus memberikan kenyamanan dan rasa percaya diri yang tinggi ke empunya pedang. Sehingga si pengguna pedang akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, rasa aman dan rasa terlindungi. (mereka dibuat sedemikian rupa sehingga bagi siapapun yang memilikinya akan merasa tenang, nyaman, terlindungi dan memiliki rasa percaya diri yang tinggi).

Untuk menjaga agar pedang tidak sembarangan melukai orang, maka sebuah sarung yang indah dibuat dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran pedang. Ditangan seorang samurai sejati, pedang ini tidak akan haus darah, dia akan keluar bila benar-benar ada sesuatu yang jahat yang harus diselesaikan olehnya atau bila ada orang yang lemah yang membutuhkan perlindungannya. Katana adalah nyawa bagi seorang samurai, kehilangan katana bagi seorang samurai sama saja dengan kehilangan kepala sang samurai. Walaupun samurai silih berganti, katana yang baik tidak pernah hilang tetapi selalu memiliki tuannya yang baru.

Nah……………………………. begitu panjang saya bercerita tentang proses pembuatan sebuah katana, tetapi apa maknanya bagi kehidupan manusia?. Perhatikan kata-kata yang di dalam kurung dan dicetak miring.

Hidup manusia yang baik haruslah seperti sebilah pedang katana. Ia tidak dihasilkan secara instan, tetapi melalui suatu proses yang panjang dan keras. Manusia yang baik juga demikian tidak dididik secara instan, tetapi melalui proses pendidikan yang panjang dan berliku sehingga memberikan pengalaman yang baik dan buruk bagi sang manusia.

Manusia yang baik dan berhasil tidak harus berasal dari keluarga yang mapan, kaya, atau terpandang, tetapi dapat berasal dari mana saja, seperti halnya bahan baku katana tidak diambil dari baja olahan pabrik atau mengunakan logam langkah yang mahal, tetapi dipilih dari bijih besi disepanjang sungai dan pantai.

Proses berubah dari manusia biasa menjadi manusia yang baik dan berharga tidak lah mudah, tetapi melalui proses yang panjang, keras dan berliku. Seperti halnya dengan bijih besi, setelah dikumpulkan, maka bijih besi dipanaskan dalam tatara selama 3 hari 3 malam hingga menghasilkan tamahagane yang bernilai tinggi. Manusia melalui proses pendidikan yang baik, berdisiplin tinggi dan luhur dapat berubah dari manusia biasa menjadi manusia yang memiliki pribadi yang baik dan luhur.

Tidak ada proses pendidikan yang cepat dan instan, semua memerlukan waktu dan pengorbanan. seperti halnya dengan katana, tidak bisa langsung dibuat sekali tempah. tetapi dilakukan dalam waktu yang lama dan berulang-ulang bahkan hingga ribuan kali proses pengulangan penempahan.

Manusia juga harus memiliki sifat seperti sebilah katana. Di dalam diri manusia harus merupakan gabungan 2 sifat yaitu sifat yang lemah lembut dan penyayang dengan sifat yang tegas, tajam dan keras. Seperti sebilah katana selain harus tajam keras, katana juga harus lentur dan tahan terhadap benturan. Manusia yang hanya memiliki sifat lembut dan penyayang hanya akan selalu ditindas oleh orang lain yang jahat, tetapi manusia yang hanya memiliki sifat keras, tajam dan tegas justru akan dijauhi oleh orang lain. Tetapi bila kedua sifat ini disatukan maka akan menghasilkan pribadi yang baik dan luhur. Kita harus bersikap lemah lembut, baik dan mengasihi sesama kita manusia tanpa memandang siapa dia, ras, suku agama atau apa saja, kita juga harus bersikap tegas, keras dan tajam kepada mereka yang menindas sesama manusia dengan dahlil apa saja.

Bila semua sifat dari katana kita miliki, maka kita dapat menjadi sebuah katana bagi orang lain, orang yang kita kasihi atau yang dekat dengan kita. Mereka akan merasa nyaman, aman dan terlindungi dengan demikian kita akan menjadi berkat bagi orang di sekitar kita. Orang yang demikian percayalah tidak akan pernah kesepian atau merasa tidak dibutuhkan. Mungkin kita disakiti dan dihina oleh orang lain sehingga kita harus menjauh, tetapi kita masih berguna bagi orang lain yang membutuhkan kita. Dengan demikian dimanapun kita berada kedamaian akan selalu berserta kita dan orang disekitar kita.

Hah………………………………… hanya sedikit makna dari Pedang Legandaris ini yang bisa saya serap dan saya bagikan bagi para pembaca blog ini. Semoga apa yang saya tulis ini dapat memberikan sedikit pencerahan dan manfaat.

Posted on Oktober 11, 2012, in nasehat dari seloki arak and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 10 Komentar.

  1. Nice:)
    Ternyata melengkungnya karena pemanasan yang tidak merata ya,,, kirain emang sengaja dilengkungin,, hehe,, keren keren.

  2. bagaimana dengan “kriss” indonesia? apa juga dibuat seperti metode “katana”, lengkungan-lengkungan kris tersebut?

    • wah, keris ya,menarik, dulu pas di jogya saya pernah sedikit dapat pelajaran cara empu bikin keris, yang pasti keris bahan bakunya yg baik dari batu meteorit, kandungan terbanyaknya nikel, besi dan crom. lengkungan keris dibuat dengan cara ditempah, tapi ada mitos kalo lengkungan keris dibuat dengan dibengkokan dengan tangan oleh Empu2 yang sakti hehehehehehehe. tp menarik untuk di kaji dan juga mengandung byk makna filosofi, nanti dech kalo udah lengkap sy posting

  3. makna_x itU kreN abIs….,,,,,
    o∩_∩o

    Thx atAs info-nya Yaa.,,,,,,

    ,,,,,,Jbu,,,,,,

    ♪●JL●♪

  4. mantap pak. ditunggu filosofi keris nya.

  5. terima kasih bro infonya ,lengkungan katana itu terjadi saat pendinginan terakhir dengan air ,klo keris memang sengaja d bentuk lengkungannya tapi saat pendinginan terakhir kayaknya terbentuk juga lengkungannya cuman lebih banyak lengkungannya dari pada katana. Juga tidak pakai tanah liat untuk melapisi pembakaran terakhir untuk membuat pattern atau pamor !

  6. saya sangat termotivasi oleh semua filosofi katana ini. terima kasih.

  1. Ping-balik: Samurai | Senyap Lenyap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: