Sekedar Ide Menyiasati Pemakaian BBM

Minggu kemarin adalah minggu yang penuh dengan demontrasi oleh mahasiswa dan masyarakat, hanya karena ide pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Kalau dilihat sudah merupakan hal yang wajar bila harga BBM naik maka protes akan timbul dari masyarakat.Namun memang harga bahan bakar kita ini tidak wajar, karena selalu disubsidi sehingga rakyat diajarkan untuk terus hidup miskin. tapi subsidi juga dibutuhkan oleh rakyat yang benar-benar miskin. Memang ini seperti makan buah simalakama, subsidi BBM dilepas, maka rakyat miskin mati, subsidi BBM diteruskan negara melarat dan OKP (Orang Kaya Pelit) yang ikut keenakan.

Sedikit tentang OKP

OKP adalah singkatan dari Orang Kaya Pelit. Mereka mampu beli mobil dengan harga yang pasti diatas 100 juta tapi tidak mampu (mau) beli bahan bakar non subsidi seperti pertamax dan pertamax plus. Padahal mobil mereka sendiri dibuat dengan speksifikasi menggunakan bahan bakar dengan oktan tinggi seperti pertamax dan pertamax plus. Setiap kali saya mengisi BBM untuk istri pertama ku (my cute vixion) dan pastinya pertamax dong, selalu menjumpai OKP – OKP ini di pom bensin lagi antri ikutan ngisi bensin premium ke mobil mereka.Nah dari sini saya timbul ide, walaupun agak nyeleneh, tapi menurut saya bisa jadi salah satu opsi untuk subsidi BBM.

Subsidi dengan batasan teknologi

Nah idenya adalah tetap memberikan subsidi BBM ke rakyat tetapi menggunakan teknologi sebagai saringannya. OK tak jelasin.

Bensin premiun adalah bensin dengan mutu terendah yang diproduksi oleh pertamina. Bensin ini hanya memiliki bilangan oktan minimum sebesar 82 dan hanya sesuai untuk engine-engine kompresi menengah ( perbandingan kompresi 7 hingga 9). Kendaraan dengan perbandingan kompresi 7 hingga 9 ini adalah sepeda motor dan beberapa mobil lawas yang masih menggunakan karburator sebagai alat pemasok bahan bakar ke engine. Untuk mobil-mobil keluaran baru dengan sistem injeksi bahan bakar umumnya memiliki perbandingan kompresi diatas 9, mobil-mobil dengan perbandingan kompresi di atas 9 ini harusnya sudah menggunakan pertamax atau pertamax plus. Nah keberadaaan angka oktan bensin premium di angka 82 ini menjadi suatu batas yang abu-abu. Mengapa, karena bensin masih dapat digunakan dengan aman pada mesin dengan kompresi diatas 9. tapi kalo angka oktan bensin diturunkan menjadi 75 – 78, maka hanya engine dengan kompresi rendah saja yang bisa menggunakannya, kalo mobil OKP nekad menggunakan bensin tipe ini ya gak apa-apa paling-paling mereka akan nyumbang dana ke bengkel. hehehehehehe.

Sebenarnya kita bisa menyiasati harga BBM dengan menyesuaikan mutu BBM itu sendiri. Pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM, cukup menurunkan angka oktan untuk bensin dari 82 menjadi 75 hingga 78 saja, maka biaya produksi bensin akan turun dan akibat yang signifikan adalah terhadap OKP yang memiliki mobil mewah tapi tidak sangggup beli pertamax atau pertamax plus. Dengan angka oktan 75 – 78, maka bensin hanya cocok digunakan pada mesin torak kompresi rendah (dari 6 hingga 7). otomatis hanya mesin-mesin angkot dan sepeda motor yang sesuai dengan bensin ini. Kalo OKP (orang kaya dan pelit) mau mengisi bensin dengan oktan 78 ke mobil mewahnya ya silakan saja, tinggal tunggu waktu untuk ke bengkelkan. hehehehehehehe.

Bagaimana dengan solar. Pada mesin Diesel dikenal dengan angka Setan (bukan setan dalam arti hantu…… tapi dari gugus setana). Sama dengan bensin, angka setan ini menentukan tingkat detonasi pada engine. Nah supaya pemerintah tidak terlalu merugi, kembali sama caranya, turunkan angka setan ini sehingga hanya mesin diesel dengan putaran rendah seperti mesin kapal, mesin truk dan mesin-mesin diesel industri yang bisa menggunakannya, bagi OKP (orang kaya pelit) yang punya mobil diesel mewah sediakan pertamina DEX dengan angka setan yang bagus, kalo masih nekad membeli solar dengan angka setan rendah yang biarkan saja, nanti bengkel yang dapat tambahan rejekikan.

Jadi subsidi tetap ada bagi rakyat miskin, beberapa jenis angkutan umum seperti truk dan bus masih bisa menggunakan solar subsidi sehingga harga barang tidak naik-naik amat. Mesin kapal nelayan juga bisa menggunakan solar subsidi (wah ini penting kalo gak sewa kapal pancing bisa ikut naik, hehehehehehe). tukang ojek, karyawan pabrik yang umumnya menggunakan sepeda motor dan angkot masih bisa menggunakan bensin premium dengan oktan rendah (ya gak nyaman dikitlah karena mesin bergetar dan gak bisa ngebut, eh, gak bisa ngebutkan malah aman, ya kalo mau kenceng pakai pertamax). Dan yang paling penting OKP (Orang Kaya Pelit) bisa kita ajarkan untuk tidak terlalu pelit dan belajar hidup kaya dengan membeli pertamax atau pertamax plus.

Dengan demikian rakyat juga akan diajarkan secara perlahan-lahan untuk hidup mandiri, karena lambat laun bensin premium dengan oktan rendah akan ditinggalkan. Maka saya yakin suatu saat tidak ada lagi subsidi buat rakyat, karena mereka sudah terbiasa untuk hidup mandiri (tentu saja taraf hidup mereka harus diangkat dulu !!)

Jadi  pemerintah harus arif, gunakan teknologi sebagai saringan untuk menerapkan subsidi bahan bakar. Bagi para pembaca, mohon kritikan dan masukkannya semoga blog kecil ini memberikan masukan yang berguna. bagi OKP Peace dan mari belajar untuk hidup jadi orang kaya !!!

UPDATE………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..

Kemanakah Uang Subsidi BBM itu mengalir?, Orang Miskin Atau Orang Kaya?

Pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang saya dapat dari teman saya di komplek. beliau berkomentar kalo subsidi itu sangat membantu rakyat miskin. Saya sendiri tidak begitu sependapat karena menurut perhitungan justru OKP yang banyak menyerap subsidi BBM langsung dari pemerintah. Orang miskin HANYA tertolong dengan murahnya transpostasi dan barang-barang. Untuk membuktikannya dengan manggunakan angka, mari kita hitung bersama.

kita asumsikan ada sebuah pabrik yang terdiri dari 1 orang menejer jenis OKP dan 1 orang buruh karyawan golongan menengah. Sang menejer OKP menggunakan mobil sejuta umat untuk ke pabrik dengan konsumsi bahan bakar 13 km/jam. Sang karyawan menggunakan sepeda motor bebek sejuta umat juga untuk pergi ke pabrik dengan konsumsi bahan bakar 50 km/jam (sepeda motor bervariasi konsumsi bahan bakarnya, untuk lebih jelasnya silakan lihat blog tetangga di ridertua.wordpress.com). kita lanjutkan jarak dari rumah ke pabrik untuk  2 orang tersebut kita anggap saja sangat ideal yaitu sama-sama 15 km tanpa halang lintang apa pun sehingga kendaraan bisa dipacu pada titik terhematnya. Pertanyaannya berapa subsidi buat manejer dan Berapa juga subsidi buat karyawan tersebut?

Yuk kita hitung …..

konsumsi bahan bakar:

Sang menejer : 13 km/liter

Sang karyawan : 50 km/liter

jarak tempuh keduanya sama 15 km, jadi bolak balik dari rumah – pabrik – rumah adalah 30 km.

maka konsumsi bahan bakar untuk :

sang menejer : (30 km )/(13km/liter) = 2,3 liter

sang karyawan : (30 km) / (50 km/liter) = 0,6 liter

bila 1 liter bensin disubsidi oleh pemerintah sebesar Rp 4.000,-/liter maka subsidi buat:

Sang menejer : 2,3 x Rp 4.000 = Rp 9.200,-

Sang karyawan : 0,6 x Rp 4.000 = Rp 2.400,-

lihatlah alangkah menyedihkannya. 1 bulan ada 25 hari kerja maka uang rakyat yang dimakan oleh :

sang menejer : 25 x Rp 9.200,- = Rp. 230.000,-

sang karyawan : 25 x Rp. 2.400,- = Rp. 60.000,-

Jadi kesimpulannya subsidi yang diambil sang menejer  bisa digunakan untuk mensubsidi 4 orang karyawan. “alangkah adilnya pemerintah😦“.

Belum lagi, tiap akhir pekan sang menejer berlibur ke tempat wisata dengan mobilnya yang tentu saja menghabiskan berliter-liter bensin premium bersubsidi dengan dibiayai oleh uang rakyat. Sedangkan sang karyawan boro-boro mau berlibur  uang buat makan aja sudah gak cukup lagi.

Ini perhitungan sangat ideal dengan tidak melibatkan macet, lampu merah, ngebut di toll dan sebagainya.

Nah data di atas baru dari bidang transportasi pribadi, belum lagi kalau dihitung dari subsidi listrik. Coba lihat rumah-rumah orang berada tidak ada yang menggunakan listrik 1300 Watt kan, mengapa karena AC nya tidak dapat menyala dan kalau AC tidak menyala, sang nyonya besar akan berteriak : (Tidur aja kamu diluar!!!! hehehehehehe, gak dapat jatah dech.). Nah hitung saja sendiri berapa subsidi pemerintah untuk ACnya orang berada dan subsidi pemerintah untuk orang miskin. (gak usah di hitung rumit-rumit, jawabannya pasti jomplang!!)…

Mengapa Pemerintah Tidak Memikirkan Pajak Bahan Bakar.

Sekedar ide lagi dari rakyat kecil, mengapa pemerintah tidak memberlakukan pajak bahan bakar. Toh, yang paling banyak mengkonsumsi BBM kan mobil, maka hitung saja pajak BBM dengan mengalikan kapasitas mesin dengan suatu harga Rupiah. contoh bila dipatok pajak bahan bakar sebesar Rp 1.000,- / cc mesin per tahun , maka mobil sejuta umat akan kena pajak sekitar 1300 cc x Rp 1.000/cc = Rp 1.300.000,- /tahun. lumanyakan untuk nambah-nambah subsidi. Untuk motor ya batasin aja pada motor yang kapasitas mesinnya diatas 110 cc baru kena pajak, yang dibawah itu tidak kena pajak.

Ya , itu semua hanya sekedar ide dan unek-unek dari seorang rakyat kecil. semoga bermanfaat.

Ah muter musik aja ya…….. bosen………

Galang rambu anarki anakku
lahir awal januari menjelang pemilu
galang rambu anarki dengarlah
terompet tahun baru menyambutmu
galang rambu anarki ingatlah
tangisan pertamamu ditandai bbm
membumbung tinggi (melambung)

Reff:

maafkan kedua orangtuamu
kalau tak mampu beli susu
bbm naik tinggi
susu tak terbeli orang pintar tarik subsidi
mungkin bayi kurang gizi (anak kami)

galang rambu anarki anakku
cepatlah besar matahariku
menangis yang keras, janganlah ragu
tinjulah congkaknya dunia buah hatiku

doa kami di nadimu

Posted on April 2, 2012, in nasehat dari seloki arak and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 13 Komentar.

  1. Pak siapa aja yang terdakwa sebagai OKP??

    • Yang pasti Randy, bukan IJK dan IJM hehehehehehehe, kalo mau lihat OKP kamu ke pom bensin terdekat dan lihatlah mobil-mobil pribadi yang baru-baru tapi mengisi premium, seolah-olah mereka juga golongan tidak mampu,🙂.

  2. setuju banget pak dju, para wakil rakyat gak ada yg berani memikirkan hal inin karena perut mereka diisi oleh duit OKP. Jadi pada diem ajalah, wong sudah kenyang.

  3. Jeri wrote: “Memang okp tuch ngak tau malu ya pak.
    Pak klo oktanya diturunkan, bagaimana dengan sisa gas buang nya?
    Apakah masih di ambang baku nya?”

    demikian pertanyaan dari Mr Jeri di Facebook, pertama-tama sorry Jer, gak bisa bales di FB, biasa Jer diblok di kantor sini, peraturan kantor kalo FB gak boleh, tapi bingung gambar porno bisa nongol di google hehehehehehe🙂.

    ok aku coba jawab ya, emisi selalu ada walaupun angka oktannya dinaikkan. dulu di lab mesin kita kan pernah nguji motor bakar dengan berbagai jenis bahan bakar,(aku lupa Jer skripsi siapa tapi kalo gak salah angkatan 98 juga) dan hasilnya gw masih ingat emisi untuk pertamax plus justru menghasilkan emisi yg terburuk pada mesin yang kita uji, tapi bensin premium malah bagus. nah kesimpulannya karena mesin kita waktu itu mempunyai kompresi tingkat menengah (sekitar 7) jadi lebih cocok menggunakan bensin premium.

    nah kalo oktan diturunkan, maka secara otomatis, kendaraan dengan kompresi tinggi akan menghasilkan emisi yang buruk, akibatnya katalik konverter di knalpot akan cepat rusak (tambah – duit buat OKP), dan gak lulus uji emisi (repot perpanjang STNK OKP). tapi kalo buat mesin motor ya gampang, turunin aja kompresinya dengan mengganjal silinder head dengan packing yg lebih tebal, maka pembakaran untuk oktan rendah akan lebih baik. Kalo mobil mau ikutan turunin kompresinya ya silakan, paling tambah dorong kalo mau nanjak, hehehehehehehe.🙂

    Khusus untuk ninja mu (eh masih ada gak ya?) bisa pakai bensin premium karena kompresi 2 tak rendah dan memang emisinya udah jelek dari sononya. tapi untuk satria lu ya saran gw pakai pertamaxlah biar tetap kencang.🙂

  4. Perta-max Rp10800. :’-( Terlalu jauh bedanya dengan Perta-min.

    • wow naik lagi ya Pak Zainur, kemarin beli baru Rp 10.250,- ternyata belum sampai pada kondisi maksimum, hehehehehe tapi perta-min termasuk junk food , hehehehe🙂

  5. Satu hal yg dapat kita simpulkan, ternyata tulisan tentang isu sosial lebih menarik minat baca dari pada kapasitor, HIks…. padahal buat bikin tulisan kapasitor aku perlu berguru ke eyang google, beberapa gudang ilmu, berkutat dengan equation dan yang paling penting banyak menghabiskan stok gorengan……….sedangkan untuk nulis tentang bbm ,ya tinggal speak-speak aja,🙂

    • ahhhahahahhaha gitu yaahhh…….lebih cepat memahami BBM dan OKP dibanding kapasitor soalnya….hahahaha
      btw kalo nurunin angka oktan tu perlu nambah biaya gede lg gak,?? maksudnya kalo se-simple itu, kenapa pemerintah gak melakukannya? daripada capek2 buat iklan untuk nyindir OKP2 yg masih pake premium.,,, nah, kalo simple n gak dilakuin kemungkinan masalah di duit lg kali ya?? haha

      • harusnya gak lah karena jumlah aditif yang ditambahkan dalam bensin dikurangi. Nah kenapa pemerintah tidak melakukannya, pertanyaan yang bagus jawabannya banyak sekali:
        1. sengaja biar ada bahan untuk mengalihkan perhatian. liat akibat isu bbm naik kasus nasarudin, angelina sondak dan miranda gultom jadi beku kan. media kita juga payah mau2nya dialihkan.
        2. ya karena pemerintah sendiri yang termasuk jenis OKP.
        3. kalo diturunkan mutunya maka lsm akan cari kesempatan lagi buat nyerang pemerintah khususnya tuduhan menurunkan kualitas minyak.
        4. masalah paling besar adalah bisnis.

        sekarang malah mau batasin penggunaan bbm, jadi yg ku dengar hanya mobil yang kapasitas mesinnya dibawah 1500 cc yg boleh pakai premium. masalahnya justru mobil dibawah 1500 cc itu jenis mobil 1 juta umat, yg umumnya dimiliki oleh org kaya kelas menengah dan atas buat pergi kerja. ya tetap aja masih bisa pakai premium, trus akan timbul lagi bisnis sampingan, supir angkot tidak mau narik angkotnya lagi krn lebih baik ngantri bensin terus jual dech ke orang kaya, dapat untung kan. hehehehehehe.
        mau kasih pengawas?. sejak kapan pengawas indonesia bisa jujur, justru itu jadi pendapatan sampingan, contohnya gw isi bensin 30 liter terus bayar pengawas 10 rb. jadi pengawas juga enak 100 org x 10 rb udah 1 juta, waw gaji siapa coba per hari 1 jt. hahahahahahahaha ini hanya pemikiran ku saja.

  6. wah, bagus banget sharingnya… alasannya mengena.
    sy sendiri, tipsnya yaitu dg berusaha menghindari kemacetan….

  7. doain semoga aku jadi OKD ya….
    OKD = Orang Kaya Dermawan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: